Langsung ke konten utama

Berbagai Kala

Berbagai Kala

Kala itu ku kira tertawa bersama lingkup yang penuh keramaian adalah suatu kebahagiaan yang hakiki, ternyata tidak juga.
Kala itu ku kira berjalan bersama banyaknya langkah kaki adalah suatu keseimbangan dalam hal suka cita, ternyata tidak juga.
Kala itu ku kira keren menjadi trendsetter di sekolah dan dikenal banyak siswa lainnya, menjadi sombong tanpa disengaja mengejar popularitas atas nama, ternyata tidak juga.
Kala itu ku kira tidak membentuk sebuah geng adalah hal yang paling ketinggalan zaman dan norak, ternyata tidak juga.
Kala itu ku kira berjalan sendiri adalah hal yang paling menakutkan di dunia, ternyata tidak juga.
Kala itu ku kira menjadi berbeda adalah suatu kutukan yang mengerikan, ternyata tidak juga.
Kala itu ku kira menjadi diri sendiri adalah omong kosong belaka, ternyata tidak juga.
Kala itu ku kira menjadi diam adalah suatu hal gila yang tak seharusnya ada dan percuma, ternyata tidak juga.




Kala itu, waktu mengajarkan semua seolah menggurui tetapi ia tidak selalu memaksakan kehendak untuk ikut menjadi muridnya.
Kala itu, waktu memberi teori yang harus kita pelajari sendiri. Ya, berlomba mencari apa maksudnya, apa tujuannya, dan apa kegunaannya.
Kala itu, waktu seakan berbahasa bahwa ia selalu ingin menuntun kita agar belajar pada setiap detiknya. Seakan tak pernah lelah memberi ulasan tentang apa saja yang telah kita lakukan dan waktu pula yang menuntun kita untuk mengevaluasinya. Menjadi berevolusi karena bimbingannya.


Jadi, kala-kala itu akan mengalah dengan sekala waktu yang bijaksana.



30 Mei 2017. Senja Berselimut di Kamar Kost.


Komentar